Minggu, 12 September 2021

PENDIDIKAN BERKARAKTER DALAM BINGKAI ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

              PENDIDIKAN BERKARAKTER DALAM BINGKAI ISLAM 

                                          RAHMATAN LIL ALAMIN

Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja1 UNSIKA FAI Prodi Pendidikan Agama Islam2

achmadmauldfi@gmail.com

 

Abstrak:

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.Tujuan pendidikan tidak sekedar menstransfer knowledge atau to change mental attitude saja, sebaiknya orientasi pendidikan lebih ditekankan pada pembentukan karakter peserta didik. Ketergantungan manusia terhadap mobile phone, internet dan media sosial sangat tinggi tanpa disadari berimfact pada kekacauan yang bersifat normatif.

Kata kunci: Pendidikan, Karakter, Rahmatan Lil Alamin.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Upaya mewujudkan tujuan pendidikan tidak sekedar menstransfer knowledge atau to change mental attitude saja, sebaiknya orientasi pendidikan lebih ditekankan pada pembentukan karakter peserta didik. Ide krusialnya pendidikan karakter untuk membangun peradaban Bangsa diinisiasi oleh Nuh Muhammad (2016) dalam Anwar Syaiful (2016: 2) dengan harapan dapat mengembalikan citra bangsa pada tempo dulu, yakni bangsa yang beradab, santun, toleran, sopan (berakhlak/berbudi pekerti) dan sejenisnya.

Urgensi terkikisnya nilai-nilai dasar anak bangsa imfact dari arus informasi teknologi yang tidakdapat dihindari, semula teknologi hanya sebagai alat bantu memudahkan aktivitas sehari-hari tetapi sudah berubah fungsi menjadi alat bantu kemampuan diri manusia. Tidak berlebihan jika saya simpulkan teknologi menjadi sebuah kekuatan otonom dan mampu mempengaruhi gaya hidup manusia.

Ketergantungan manusia terhadap mobile phone, internet dan media sosial sangat tinggi tanpa disadari berimfact pada kekacauan yang bersifat normatif. Fenomena ini dapat kita cermati di tengah masyarakat norma-norma yang ada menjadi simpang siur (anomie). Ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat mengalami kebingungan dalam menggunakan norma karena banyaknya norma yang ada (heteronomi). Imfact teknologi menjadi pengarah hidup manusia, yang dikhawatirkan oleh Nuh Muhammad (2016) semakin terlihat jelas bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih sadar global daripada sadar nasional.

Terkait kondisi saat ini, penulis mencoba mengangkat masalah yang terjadi di tengah masyarakat isu terkikisnya karakter generasi muda: Bagaimana Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa Berbasis Rahmatan lil alamin?

PEMBAHASAN

Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Selain itu, menurut Sutarjo (2021) bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Sedangkan hakikat pendidikan menurut Syafaruddin (2016: 49) bahwa pendidikan merupakan fenomena kebudayaan manusia dalam proses membina pribadi anak agar mencapai kedewasaan hidup.

Diperkuat oleh Anwar Syaiful (2016: 3) bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk manusia memahami, peduli, dan melaksanakan nilai-nilai akhlak. Dengan kata lain pendidikan karakter harus dimaknai sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai akhlak (moral, etik). Pendidikan karakter sebuah transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu perilaku kehidupan orang tersebut (Anwar Syaiful, 2018: 235).

Selain itu, pendidikan Islam diharapkan dapat melahirkan insan yang memiliki keimanan dan akhlah mulia. Jika melihat masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam sudah menjadi satu kewajiban dan tanggungjawab dari Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan dan merawat karakter yang Islami berbasis Rahmatan Lil Alamin sebagai jawaban dari permasalahan bangsa.

Menurut Anwar Syaiful (2018: 235) bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan di Indonesia, yakni bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional, yakni: 1) Religius; 2) Jujur; 3) Toleransi; 4) Disiplin; 5) Kerja keras; 6) Kreatif; 7) Mandiri; 8) Demokratis; 9) Rasa ingin mengetahui; 10) Semangat kebangsaan; 11) Cinta tanah air; 12) Menghargai prestasi; 13) Bersahabat atau komunikatif; 14) Cinta damai; 15) Gemar membaca; 16) Peduli lingkungan; 17) Peduli sosial, dan; 18) Tanggungjawab. Diperjelas tentang karakter bangsa menjadi salah satu sembilan unsur kekuatan nasional dalam rangka mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pembangunan karakter menempatkan pendidikan sebagai strategi dasar dari pembangunan peradaban bangsa dimata Internasional. Jika kita telaah kembali sudah ada di jaman Rasulullah SAW dalam tugas utamanya sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Karakter sebagai pendidikan dasar dalam Islam dengan konsepnya bahwa manusia dilahirkan dengan potensi berbuat baik terhadap alam dan sesama manusia. Penulis simpulkan bahwa pendidikan pendidikan agama memiliki landasan dasar dalam membangun karakter peradaban bangsa. Terkait peran merujuk pendapat Soekanto Soerjono (1990: 268) bahwa peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran.

Peran pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter Bangsa berbasis Rahmatan Lil Alamin mengembangkan pola hubungan antar manusia pluralis, humanis, dialogis, dan toleran serta tidak kalah pentingnya mengembangkan pemanfaatan dalam pengelolaan alam semesta dengan bingkai kasih sayang. Peran guru Pendidikan Agama Islam menjadi penting di dalam menjelaskan dan mencontohkan bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dalam mencetak generasi berkarakter dalam bingkai Islam rahmatan lil alamin.

Akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama (Fauzi Imron, 2018: 25). Islam menjunjung tinggi akhlak mulia sebagaimana Allah mengutus RasulNya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Sifat dan sikap Rasulullah adalah bentuk dari implementasi tujuan disyariatkannya pendidikan agama Islam.

Peran dan tugas pendidikan agama Islam adalah meneruskan perjuangan Rasulullah diharapkan dapat menciptakan keharmonisan di tengah masyarakat dan Negara. Penulis merekomendasikan bahwa pendidikan agama Islam sebagai solusi meningkatkan karakter generasi bangsa, yakni: mengevaluasi kurikulum pendidikan agama Islam dengan merujuk pada AL-Quran dan Hadits.

Selain itu, relevansi dengan perkembangan jaman menurut Nasutin (1987) dalam Masykur (2019: 31-32) bahwa pemilihan bahan kurikulum, yakni: 1) Berdasarkan kronologis; 2) Bersifat logis; 3) Berangkat dari materi yang mudah sampai materi yang lebih kompleks; 4) Dari mulai yang lebih spesifik menuju yang lebih umum; 5) Digunakan pendekatan spikologi Gestalt; dari hal-hal yang komperensif menuju bagian-bagian. 

KESIMPULAN

Peran dan tugas Pendidikan Agama Islam meneruskan perjuangan Rasulullah dalam membentuk karakter Bangsa berbasis Rahmatan Lil Alamin. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firmannya: “dan  tiadalah kami mengutus kamu, melainkan unttuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-anbiya: 107). Pendidikan Islam dalam  mengikuti tuntutan perkembangan jaman dengan mencermati kedalaman dan keluasan materi kurikulum. Selain itu, pemilahan materi disesuaikan dengan ruang lingkup yang meliputi banyak hal yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap.

DAFTAR PUSTAKA 

Anwar Syaiful, 2018. Pendidikan Islam dalam Membangun Karakter Bangsa di Era Milenial. Jurnal: Pendidikan Islam, Vol.9 No.2 tahun 2018. Hal.233-247

Anwar Syaiful, 2016. Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa. Jurnal: Pendidikan Islam, Vol.7 November 2016. Hal.1-13.

Masykur, 2019. Teori dan Telaah Pengembangan Kurikulum. Bandar Lampung: Aura

Fauzi Imron, 2018. Profesi Keguruan. Jember: IAIN Jember Press.

Rose Colin & Nicholl J Malcolm, 2020. Revolusi Belajar Accelerated Learning For the 21stCentury. Bandung: Nuansa Cendekia.

Sugiarto Eko, 2017. Kitab PUEBI Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi

Sutarjo, 2021. Pendidikan Berkarakter dalam Bingkai Islam Rahmatan Lil Alamin. Disampaikan pada PKKMB Fakultas Agama Islam UNSIKA, Pada tanggal: 8 September 2021.

Soekanto Soerjono, 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Syafaruddin, 2016. Manajemen Organisasi Pendidikan Perspektif Sains dan Islam. Medan: Perdana Publishing.



Noted: Ini hasil karya tulisan Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja_2110631110067_UNSIKA_PAI. Perbuatan plagiat dalam penulisan karya ilmiah merupakan suatu tindak pidana. Orang yang terbukti melakukan plagiat dalam penulisan karya ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terancam sanksi pencabutan gelar, pembatalan ijazah, bahkan hingga ancaman pidana penjara. Silahkan kutip cantumkan jangan lupa cantumkan nama saya dalam sumber referensi kalian. 

Minggu, 12 April 2020

MATA KULIAH SEMESTER 1

KUMPULAN TUGAS-TUGAS SEMESTER 1
Contoh membuat resensi, silahkan dikutip serta mencantumkan sumbernya.

SOAL TUGAS III  BAHASA INDONESIA
Buatlah Resensi atas cerpen “Mitos Ibu” tahap membuat resensi cerpen adalah:
  1. Membuat ringkasan cerita
        2.  Menjelaskan kelebihan dan kekurangan cerpen dari segi unsur-unsur Intrinsik cerpen (unsur                 Intrinsik tema/alur cerita/tokoh/penokohan/setting/amanat).
Resensi menurut Keraf Gorys (1980: 274) menyatakan sebuah tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Tulisan dimaksudkan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian atau lebih dikenal dengan frase timbangan buku. Dengan kata lain timbangan-timbangan buku umumnya dilakukan terhadap karya tulis dari sebuah buku. Secara luas tentang resensi didefinisikan oleh Rusyana Yus (1996: 1) dalam Mulyati Yeti (2008: 8.26) bahwa tulisan mengenai buku pengetahuan, sastra, kamus, ensiklopedi dan sebagainya yang mengikhtisarkan, menggambarkan, menjelaskan dan menilai buku.
Tujuan pokok melakukan resensi cerpen mitos Ibu, yakni: a).memberikan sugesti kepada kepada pembaca, apakah cerpen mitos Ibu patut dibaca atau tidak?; b).melakukan dan memaparkan pendapatnya melalui sebuah timbangan atau penilaian, dalam arti peresensi akan memberikan pendapat dan penilaian tentang cerpen mitos Ibu;  c).menyodorkan kriteria-kriteria yang jelas dalam mengemukakan pendapatnya, dalam arti peresensi akan mengeksekusi kategori kriteria dan berikut pendapat peresensi tentang cerpen mitos Ibu.
Selain itu ada tiga fungsi melakukan resensi cerpen, yakni: a).Informatif, yakni menginformasikan keberadaan cerpen mitos Ibu dengan tujuan agar pembaca merasa tertarik untuk mngetahui lebih lanjut alur ceritanya; b).Komersial, yakni mempromosikan cerpen mitos Ibu dalam keuntungan berupa material; c).Akademik, yakni interaksi antara penulis cerpen mitos Ibu dan peresensi dalam membentuk wacana keilmuan penulisan cerpen serta berbagi pengalaman dan sudut pandang serta fokus resensi.
Prosedur pembuatan resensi dibagi dua jika difokuskan terhadap resensi buku, tetapi disini saya akan melakukan resensi cerpen mitos Ibu sesuai petunjuk tugas 3 mata kuliah Bahasa Indonesia dengan mengolah prosedur pembuatan resensi cerpen mitos Ibu, yakni: a). menceritakan isi cerpen mitos Ibu yang akan diresensi; b).berisi kupasan dan bahasan akan isi cerpen sebagai hasil kerja dari analisis kritis serta dilengkapi dengan perbandingan-perbandingan dengan karya cerpen lainnya yang serupa. Gambaran umum dalam isi cerpen dianggap penting, yakni: a).pembaca belum tentu pernah membaca cerpen mitos Ibu sekalipun cerpen tersebut sudah terbit pada tanggal 14 Maret 2019 Pukul: 07.51 wib dan Diperbaharui pada tanggal 14 Maret 2019 Pukul: 21.25 wib oleh penulis Nazip Rifan dalam halaman kompasiana.com dengan keterangan bahwa penulis akunnya telah diblokir karena melanggar syarat dan ketentuan Kompasiana; b).pembaca cerpen mitos Ibu harus mendapatkan keputusan untuk membaca atau tidak membaca resensi cerpen ini. ada yang terlupakan alasan para pembaca dengan mengandalkan hasil resensi karena tidak dapat membaca cerpen aslinya. Peresensi dituntut melakukan pembahasan cerpen mitos Ibu dengan ketajaman analisis dan tingkat kekritisan sebagai wujud kualitas dari presensi. Bekal peresensi yang baik, yakni: a).memiliki latarbelakang pengetahuan yang memadai mengenai tema cerpen mitos Ibu; b).memiliki latarbelakang pengetahuan bahasa dan kosakata yang memadai agar mampu menyampaikan gagasan/ide kepada para pembaca.
Peresensi harus melakukan  beberapa tahapan dalam teknik pembuatan resensi, yakni: a).teknik cutting and glueing dapat disarikan bahwa meresensi buku atau cerpen menggunakan teknik merekatkan potongan-potongan tulisan. Potongan tulisan yang menarik perhatian peresensi dengan mencerminkan gagasan-gagasan inti penulis cerpen mitos Ibu. Keterkaitan kumpulan potongan materi pilihan yang akan diresensi lalu dilakukan penyusunan dan dirangkaikan kedalam sebuah susunan yang logis atau dengan kata lain proses ini disebut dengan tahap perekatan atau penempelan. Proses tahap ini harus diperhatikan kesatuan dan kepaduan dari gagasan alur cerita. Peresensi seolah-olah harus menghadirkan si penulis dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Dengan kata lain peresensi memiliki peran menyambungkan, mengalirkan dan mengaitkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lain. pesan dan perspektif peresensi terhadap objek resensi harus terefleksikan dalam judul cerpen mitos Ibu. Sedangkan kesan dan opini peresensi dimasukkan dalam kalimat/paragraf pembuka resensi dan ada bagian kesimpulan sebagai penutup. Begitu pula dengan komentar dan ulasan peresensi harus bertolok atau bersebrangan pada gagasan penulisnya; b).teknik focusing memusatkan perhatian kepada satu aspek tertentu yang disajikan dalam objek resensi. Dalam hal ini menekankan kepada bagian-bagian yang menonjol atau menarik perhatian seperti aspek tema, metode pembahasan yang digunakan penulis, sampul luar, sosok penulis cerpen mitos Ibu, gaya penyajian dan yang lebih menarik tentang latarbelakang penerbitan karya tulisan tersebut, dan: c).teknik comparing peresensi melakukan perbandingan-perbandingan yang terdapat dalam objek resensi dengan sumber lain dengan topik yang sejenis atau yang berbeda. Ada yang menarik dalam proses tahap teknik comparing peresensi wajib membaca beberapa sumber bacaan dengan tujuan agar memperluas wawasan dan ketajaman analisis hasil resensinya. Presensi dituntut dapat menemukan kelebihan dan kekurangan yang terdapat dari sebuah buku atau cerpen sesuai yang akan diresensi.
Deskripsi tentang resensi dari mulai pengertian, tujuan pokok, fungsi resensi, prosedur pembuatan resensi, kualitas peresensi, tahap dan teknik pembuatan resensi dan tahap terakhir sebagai penunjang praktik menulis resensi adalah sistematika penulisan resensi. Kegiatan tugas wajib III mata kuliah Bahasa Indonesia dalam modul 8 membahas tentang menulis ringkasan dan resensi yang disarikan dan diolah oleh saya sebagai peresensi selain memenuhi tugas akhir matakuliah sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan menulis resensi. Anda akan saya ajak berlatih dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis resensi cerpen mitos Ibu, Anda dapat mendownload pada: https://www.kompasiana.com/rifannazhif/5c89a5a87a6d8873cd65eba3/mitos-ibu?page=all

Cerpen Mitos Ibu
14 Maret 2019   07:51 Diperbarui: 14 Maret 2019   21:25  1  21 16

Terpaksa aku mengelus dada ketika ibu mertua menyuruhku dan istri harus tinggal di rumahnya selama kehamilan istri.  Ada-ada saja! Padahal rumah ibu mertua cukup jauh dari kantor. "Ini penting demi keselamatan istrimu!" ketus ibu mertua ketika menjemput kami. Wajahnya masam karena aku sempat mengeluhkan jarak tempuh dari rumahnya ke kantorku lumayan lama. Itu artinya, aku harus lebih pagi bangun. Lebih pagi bersiap-siap ke kantor. Dan lebih ngebut menggeber motor. "Kalian sedang menanti anak pertama. Jadi, harus hati-hati! Kalian tak mengerti apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh perempuan hamil. Nanti kalau terjadi apa-apa, aku pasti menyesal karena tak mengajari kalian."Kepalaku pening. Kubantu ibu mertua memasukkan pakaian ke dalam tas. Ocehannya terbiar mengalir, dan tak kukomentari lagi. Istri hanya menanggapi dengan desah atau anggukan kepala.Dia juga sama sepertiku tak sanggup menolak kehendak ibu. Padahal di rumah kontrakan kami masih banyak yang harus dikerjakan. Seperti pesanan kue dari pelanggan setia. Menurut ibu mertua, semua itu tak perlu diurusi dulu. Menunggu kelahiran anak pertama kamilah yang harus diperhatikan lebih cermat.
Hari pertama yang menjemukan di rumah ibu mertua. Ada-ada saja mitos yang dikerjakannya sehingga membuatku geleng-geleng kepala. Istri disuruh menggantungkan gunting kecil di bh-nya, yang sebelumnya berpengait peniti. Aku takut sewaktu-waktu kulit dada istri terluka tertusuk mata gunting. Ibu mertua langsung menggeram. Dia menyalahkan pasangan muda sekarang selalu menganggap semua petuah orangtua hanyalah mitos. "Ini demi kebaikan kalian!" Ibu mertua berlalu ke dapur. Istri menendang kakiku, sebagai pertanda menyuruhku diam. Dia tak ingin kekesalan ibu berujung emosi yang meledak-ledak. Bila demikian, tingkah sang ibu seperti anak kecil. Di usia menjelang enam puluh lima tahun ini, dia mulai pikun.
Maryani, staff personalia di kantorku, manggut-manggut ketika kuceritakan tentang perilaku ibu mertua. Mulutnya berdecap-decap karena kepedasan menikmati rujak mangga muda. Dia juga seperti istriku, sedang hamil. Hanya saja usia kehamilannya sudah mendekati sembilan bulan, sedangkan istriku baru dua bulanan. "Apakah kondisi seperti yang kualami itu terjadi juga kepadamu dan suami?" kejarku. Dia mengelap keringat di kening. Menatap lurus ke penjual es krim, dan memesan dua mangkok."Apa yang kau alami tak terjadi kepadaku dan suami. Kau tak ingat, papaku seorang pengusaha burung walet, dan mamaku dokter umum? Mereka tak memiliki pemikiran tentang mitos-mitos. Semua harus real, harus sesuai dengan medis. Jadi saranku, boyonglah istrimu kembali ke rumah kontrakanmu. Pertama, agar kau dan istrimu tak pening mendengar ocehan seorang ibu yang sangat memercayai mitos-mitos. Kedua, agar kau bisa tepat waktu tiba di kantor. Ingat, Hand. Bos bisa marah besar karena kau sudah dua hari ini terlambat masuk kerja. Bisa-bisa kau diberi surat peringatan. Kau mau?" ujung perkataannya setengah mengancam. Bos memang keterlaluan ketika memberi surat peringatan. Dan tak tanggung-tanggung, peringatan ketiga seringkali dijatuhkan tanpa melewati jenjang peringatan kesatu dan kedua. "Tapi ibu mertua pasti marah. Aku tak ingin dikutuk menjadi mantu yang durhaka. Posisi ibu mertua sama saja dengan ibu kandung. Artinya, dosa durhaka kepada kedua perempuan itu, serupa." "Ya, terserah kaulah! Yang penting semua berjalan aman-aman."Aku menggerutu. Heran! Apakah semua pasangan yang sedang menunggu kelahiran anak pertama selalu dikelilingi mitos-mitos? Kecuali Maryani tentunya. Apakah ibu mertua-ibu mertua selalu memperlakukan anak-anak mereka seperti bayi yang belajar berjalan? Uh, aku tak sadar menggebrak meja. Piring, mangkok dan gelas berlompatan di situ. Untung ketiga perangkat makanan tersebut telah kosong-melompong. Jadi tak mengotori pakaian Maryani. Perempuan itu hanya melotot kesal. "Sorry! Biar kutraktir saja kau atas nasehatmu tadi," ucapku merasa bersalah. "Terima kasih!" Wajah tegang Maryani kembali mengendur.
Apa yang selalu kukeluhkan sejak ibu mertua memboyong aku dan istri ke rumahnya, akhirnya mencapai titik nadir. Ibu mertua menginginkan istriku melahirkan bayi laki-laki. Karena kelak laki-laki itulah yang akan membela adik-adik, juga orangtuanya. Tapi bukan pasal itu yang membuat keluhanku berkepanjaangan. Melainkan syarat untuk mendapatkan bayi laki-laki itu. Setiap kali bangun tidur, dan kala istri menyambutku pulang kantor, tak ada lagi aura keindahan yang ditunjukkannya kepadaku. Dia selalu mengenakan daster belel warisan ibu mertua. Wajah tak lagi berbedak, bibir tiada bergincu. Deodoran yang biasanya selalu menyinggahi pangkal bawah lengannya, pun tak pernah digunakan, sehingga membuarkan bau kurang sedap. Apalagi sehabis dia mengupas bawang merah atau putih misalnya. "Ini kehendak ibu!" katanya saat kami rebahan di kasur dengan mata yang tak mau diajak terpejam. "Kehendak bagaimana?" "Ya, itu, tuh! Karena ibu ingin aku melahirkan bayi laki-laki."Aku terperanjat. Aku duduk dan memperhatikan wajah istri yang terlihat samar-samar diterangi cahaya lampu lima watt. "Apa hubungan bayi laki-laki dengan penampilanmu yang tak menarik ini? Kau tak takut kalau tiba-tiba aku tergoda perempuan lain tersebab kau berubah kucel dan maaf, beraroma kurang sedap?"Istri terperanjat. Dia duduk, dan balas memerhatikan wajahku yang terlihat samar diterangi cahaya lampu lima watt. "Jadi, ada niatmu ingin berselingkuh, Mas? Setelah aku hampir memberimu seorang anak!" Dia emosi. Aku langsung mengguncang kedua bahunya. "Bukan, Fe! Bukan niatku begitu. Aku hanya kesal, kenapa semua menjadi begini. Ibu telah membuat kita kacau-balau," keluhku."Ibu mengatakan aku tak boleh bersolek dan mempercantik diri kalau ingin melahirkan bayi laki-laki. Bila kulanggar, kita bisa memperoleh bayi perempuan," jelasnya.
"Apa ibu tukang ramal? Apa dia mau menyaingi Tuhan?" geramku. Istri buru-buru menutup mulutku dengan telapak tangan kanannya. "Pokoknya besok kau harus bersolek sehingga rasa cinta dan nafsuku tak padam kepadamu."Benar saja, besok pagi telah kutemukan istri dengan pakaian daster baru, dan rambutnya di sisir rapi. Dia berbedak tipis-tipis, serta membuar aroma menggoda dari pangkal bawah lengannya. Benar pula ibu mertua tak setuju. Dia hanya menggeram sekali. Kemudian sepulang dari kantor aku menemukan barang-barangku dan istri telah disusun di ruang tamu. Ibu menyuruh kami pulang saja ke rumah kontrakan. Dia kecewa karena kami tak mau menuruti petuahnya."Tapi ibu tak menganggapku mantu durhaka?" "Tidak! Aku tak sampai menganggap demikian. Mungkin aku yang salah telah memaksakan kehendak kepada kalian. Pulanglah!" Aku bersorak dalam hati. Akhirnya terbebas dari ocehan ibu mertua. Akhirnya terlepas dari mitos-mitos yang membuat kepalaku seperti komidi putar. Segera aku dan istri kembali ke rumah kontrakan dan menata hidup seperti dulu, sebelum ibu mertua mengacaukannya.
Tujuh bulan usia kehamilan istriku, akhirnya kandungannya di-scan. Ibu mertua turut serta karena ingin mengetahui jenis kelamin bakal cucunya. Aku hanya mesem-mesem. "Nah, ini gambar anak Bapak! Kelihatannya sehat-sehat!" kata dokter. "Jenis kelaminnya apa, Pak Dokter?" Ibu mertua tak sabaran. "Perempuan!" jawab dokter. Ibu mertua langsung memelototiku. "Itulah kalau tak mau mendengar petuah orangtua. Sudah kukatakan jangan bersolek-solek, malah membangkang. Jadinya, calon cucuku perempuan, kan? "Laki-laki dan perempuan sama saja kok, Bu!" Dokter tersenyum-senyum tanpa mengerti arah pembicaraan ibu mertua. Sementara aku hanya membisu. Aku berpikir semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan.
  1. Sebelum memulai berlatih merensi cerpen mitos Ibu, Peresensi harus memiliki sistematika penulisan resensi cerpen mitos Ibu, yakni:Judul resensi menurut mulyati Yeti (2008: 8.28) bahwa judul boleh sama dan boleh berbeda dengan judul buku yang diresensi, judul harus menarik atau eye cathing) dengan ,maksud agar pembaca tertarik untuk membaca. Disini presensi akan memberikan judul yang sama dengan aslinya yakni Mitos Ibu;
  2. Perwajahan (Jati diri cerpen) bagian ini lebih dikenal dengan heading, disajikan dalam tabel.I
PERWAJAHAN (JATI DIRI BUKU)
a.         Judul Cerpen                                      
Mitos Ibu
b.        Nama Penulis
 Nazip Rifan
c.         Nama Penerbit dan Tahun Terbit
 Kompasiana.com  Tahun 2019.
d.        Jumlah Halaman
 1 Halaman
e.         Jenis Huruf
 Normal Font
f.         Halaman Sampul (cover)
 Jingga
g.        Harga cerpen
(Boleh dicantumkan atau tidak dicantumkan)
 Free/Gratis

                        Sumber:Disarikan dan diolah dari Modul 8 Kegiatan Belajar 2 Menulis Resensi (2019).
3. Pembukaan merupakan alenia pembuka (dalam teknik peulisan berita yang lebih dikenal dengan      istilah lead, yakni disajikan dalam tabel.II
PEMBUKAAN (ALENIA PEMBUKA)
a.         Uraian, deskripsi, rangkuman yang menjelaskan isi cerpen mitos Ibu atau lebih dikenal dengan gambaran umum dari cerpen mitos Ibu:
Ibu mertua menyuruhku dan istri harus tinggal di rumahnya selama kehamilan menanti anak pertama kami. "Ini penting demi keselamatan istrimu!" ketus ibu mertua, padahal jarak tempuh dari rumahnya ke kantorku lumayan lama. Ibu meminta Istri menggantungkan gunting kecil di bh-nya yang sebelumnya berpengait peniti. Aku takut sewaktu-waktu kulit dada istri terluka karena tertusuk mata gunting tetapi Ibu mertua menggeram dan menyalahkan pasangan muda sekarang selalu menganggap semua petuah orangtua hanyalah mitos.
Jadi saranku, “boyonglah istrimu kembali ke rumah kontrakanmu” begitu ucapan Maryani Staff Personalia teman sekantorku. Mencapai titik nadir ketika Ibu mertua menginginkan Istriku melahirkan bayi laki-laki dan menyuruh tak boleh bersolek dan mempercantik diri kalau ingin melahirkan bayi laki-laki. Bila kulanggar, kita bisa memperoleh bayi perempuan begitu alasan istriku ...
b.        Kutipan bagian-bagian yang memperjelas isi cerpen:
"Ini penting demi keselamatan istrimu!" ketus ibu mertua. Ibu meminta Istri menggantungkan gunting kecil di bh-nya yang sebelumnya berpengait peniti dan tidak boleh bersolek selama hamil. Ibu mertua menggeram dan menyalahkan pasangan muda sekarang selalu menganggap semua petuah orangtua hanyalah mitos.
c.         Kaitannya dengan hal diluar cerpen mitos Ibu (bila perlu):
Perubahan sosial adalah keadaan dinamis yang terjadi pada kelompok sosial, interaksi sosial, stratifikasi sosial dan Institusi sosial. Perubahan budaya perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama dalam berbagai bidang kehidupan dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan sosial budaya terjadi pada kebudayaan, kepercayaan, pengetahuan, bahasa dan teknologi.
Jika perubahan-perubahan yang terjadi dikaitkan dengan isi cerpen mitos Ibu yang masih mempercayai menggantungkan gunting kecil di bh perempuan hamil agae tidak diganggu oleh makhluk-makhluk halus. Padahal tidakada korelasi antara gunting kecil di bh, perempuan hamil dan makhluk halus.
d.        Kaitannya dengan konteks situasi yang sedang menghangat di masyarakat:
Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan masyarakat kepada pemikiran yang rasional dan menganggap semua petuah orangtua hanyalah mitos yang akan menghambat aktivitasnya sebagai masyarakat modern. Teknologi yang semula hanya semula peruntukkan sebagai alat inovasi untuk mempermudah aktivitas manusia justru saat ini menjadi pengarah hidup manusia.
Kita ambil contoh dalam pemanfaatan teknologi USG sebagai alat pendeteksi keberadaan dan kesehatan bayi dalam rahim seorang Ibu tetapi oleh sebagian masyarakat yang masih buta teknologi dijadikan sebagai alat untuk mengetahui jenis kelamin dan tanggal kelahiran bayi. Meminjam pernyataan penulis diakhir cerita setelah istrinya dilakukan USG oleh dokter, “Aku berpikir semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan”.
e.         Bersifat pemancing untuk menarik perhatian pembaca:
"Tapi ibu tak menganggapku mantu durhaka?" karena tidak mengikuti kehendak Ibu. Aku tak ingin dikutuk menjadi mantu yang durhaka. Posisi ibu mertua sama saja dengan ibu kandung. Artinya, dosa durhaka kepada kedua perempuan itu, serupa ...
             Sumber:Disarikan dan diolah dari Modul 8 Kegiatan Belajar 2 Menulis Resensi (2019).   
4. Pembahasan berisi komentar, ulasan, analisis kritis dan penilaian terhadap isi cerpen mitos Ibu           dengan dua aspek antara lain aspek luar dan aspek isi, disajikan dalam tabel.III.
PEMBAHASAN
a.         Analisis terhadap isi cerpen mitos Ibu disertai dengan alasan dan bukti yang ada dalam isi cerpen:
1)       Tema tentang menanti kelahiran anak pertama;
2)        Setting lokasi dalam cerpen, yakni: Rumah Kontrakan dan Jarak antara Rumah Ibu Mertua dan kantor;
3)       Tokoh cerita: Ibu Mertua, Aku, Istri dan Maryani;
4)        Karakter Tokoh dalam cerpen mitos Ibu:
(a)   Ibu Mertua: Orangtua yang kolot masih memegang teguh petuah orangtua dulu yang lebih kental dengan mitos-mitos kepercayaan tentang perempuan hamil dan benda-benda yang dapat dijadikan penangkal mistik.
(b) Hand: Hidup dalam perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dituntut untuk berpikir rasional tanpa menghilangkan rasa hormat kepada orangtua serta mertua yang memiliki posisi kedudukan yang sama.
(c)    Istri: Anak yang patuh taat kepada orangtua dan suami;
(d) Maryani: bersifat rasional karena didukung oleh lingkungan sekitarnya ayahnya seorang pengusaha burung walet dan Ibunya seorang dokter umum keduanya tidak memiliki pemikiran tentang mitos-mitos, semua harus real dan harus sesuai dengan medis; 
(e)    Dokter sebagai tenaga medis  bertugas memeriksa rahim perempuan

5)      Alur cerita cerpen: Kuatnya pengaruh budaya Patriarki dan Ibu mertua yang lebih mengutamakan peran laki-laki daripada perempuan. Perspektif Ibu mertua dengan lahirnya anak laki-laki yang dipercayainya kelak yang akan membela adik-adik serta orangtuanya.
6)      Akun Penulis mitos Ibu di blokir oleh Kompasiana karena melanggar syarat dan ketentuan pihak kompasiana.com. Peresensi mencoba menghubungi pihak Kompasianan mempertanyakan sebab terblokirnya akun penulis Nazip Rifan cerpen mitos Ibu tetapi belum ada konfirmasi. Berdasarkan data Profil penulis dapat dijadikan beberapa informasi, diantaranya: Penulis menjadi anggota kompasiana pada tanggal 8 Agustus 2011, jumlah followers 242 dengan jumlah penelusuran sebanyak 146.218 dan komentar sebanyak 1.141
7)    Rekomendasi peresensi kepada pembaca dapat membaca tentang cerpen mitos Ibu dengan mengambil hikmahnya bahwa tidakada kolerasi antara perempuan hamil dengan gunting yang dikaitkan di tali bh apalagi jika tidak bersolek hanya karena berharap mendapatkan anak laki-laki. Anak adalah anugerah dari Allah Swt yang harus kita syukuri tanpa memandang jenis kelaminnya. Pembaca cerpen harus sesuai dengan usia agar tidak terjebak dalam perilaku yang salah.
b.        Analisis kekuatan dan kelemahan (bila ada) isi cerpen yang di resensi:
Kekuatan isi cerpen mitos Ibu:
1)    Hand sebagai anak menantu yang baik sekalipun tidak mempercayai mitos-mitos dan tetap mengagungkan rasa hormat kepada Ibu mertuanya yang ia pahami jika melukai hatinya itu sama saja dengan melukai Ibu kandungnya sendiri. Disini terlihat hand adalah seorang pria dan suami yang memiliki pengetahuan agama dengan baik. Penulis berhasil hadir dalam hati pembaca karena dapat mengikuti alur ceritanya.
2)     Istri yang patuh dan taat kepada Ibu dan Suaminya terlihat ia mengikuti semua perintah Ibunya walaupun bertolak belakang dengan keinginannya. Ia meyakini surga ada di bawah telapak kaki Ibu walaupun bertolak pendapat tetapi bukan berarti menghilangkan rasa hormat pada Ibu yang telah melahirkannya.
3)   Kualitas Penulis cerpen mampu menggiring pembaca dari mulai pembukaan alenia pertama sampai terakhir melakukan closing dengan baik, meminjam kalimatnya, “Sementara aku hanya membisu”. Aku berpikir semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan.
Kelemahan isi cerpen mitos Ibu:
1)      Mengutip dari percakapan hand dan Istrinya: “Kau tak takut kalau tiba-tiba aku tergoda perempuan lain tersebab kau berubah kucel dan maaf, beraroma kurang sedap?"Istri terperanjat. Dia duduk, dan balas memerhatikan wajahku yang terlihat samar diterangi cahaya lampu lima watt. "Jadi, ada niatmu ingin berselingkuh, Mas? Setelah aku hampir memberimu seorang anak!"
2)    "Pokoknya besok kau harus bersolek sehingga rasa cinta dan nafsuku tak padam kepadamu." Point 1 dan 2 tidak dapat dihadirkan dalam bacaan remaja atau generasi milenial yang lebih banyak sebagai pengguna media sosial kompasiana, jika dicermati akun penulis mitos Ibu diblokir oleh pihak kompasiaana ada dua asumsi, yakni plagiatisme menguktip hasil karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya atau terkesan vulgar.
3)     Hand tidakmampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya hingga hand harus melibatkan Maryani guna mendapatkan solusi yang terbaik. Padahal kehadiran pihak ketiga tidakakan memberikan solusi terbaik dalam permasalahan yang dihadapinya karena umumnya teman curhat yang berbeda jenis kelamin akan menimbulkan permasalahan yang baru.
c.        Pembandingan dengan sumber-sumber yang berbeda:
Pembandingan dengan sumber-sumber bacaan dalam bentuk cerpen yang alur ceritanya tentang mitos Ibu yang menginginkan kelahiran cucu pertamanya laki-laki dengan kepercayaan bahwa anak laki-laki kelak akan mampu menjaga dan melindungi adik-adiknya serta orangtuanya. Jika kita cermati budaya ini kental dengan budaya partiarki yang sudah tergeser oleh budaya luar yang lebih menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam urusan domestik dan publik.
d.       Gagasan-gagasan penulis mengenai cerpen mitos Ibu:
Gagasan penulis memberikan pencerahan kepada pembaca khususnya suami istri yang baru berumah tangga agar tidak mempercayai mitos-mitos dan budaya partiarki yang lebih kental mengutamakan peran laki-laki daripada perempuan dalam posisi domestik dan publik.

                       Sumber:Disarikan dan diolah dari Modul 8 Kegiatan Belajar 2 Menulis Resensi (2019).
5.       5. Penutup merupakan penilaian peresensi mengenai perlu tidaknya pembaca hasil resensi atau               memiliki cerpen tersebut, disajikan dalam tabel.IV
PENUTUP
Rekomendasi  untuk Pembaca cerpen Mitos Ibu:
Peresensi menawarkan hasil temuan dalam cerpen mitos Ibu ada beberapa kalimat yang tidakdapat dikonsumsi oleh usia remaja. Cerpen ini dapat mengapresiasi estetikanya serta mengambil makna dan hikmah bahwa berbeda pendapat dengan orangtua boleh saja tetapi jangan sampai menghilangkan rasa hormat kita kepada orangtua yang telah melahirkan, merawat, mendidik dan membesarkan kita.


6. Identitas Peresensi guna menunjukan otoritas dan kredibilitas peresensiny
Nama Lengkap            : Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja
Fakultas/Prodi             : FISIP/Sosiologi (S1)
NIM                            : 042024154
Media Sosial               :  Instagram.com/@achmadsastraatmadja
E-mail                          : achmadmauldfi@gmail.com

Prestasi yang diraih jenjang tingkat Nasional dan Internasional, yakni:
1)   Pemenang Lomba Essay: Optimalisasi Sumberdaya Alam Menuju Pesantren Mandiri Energi dan Ramah Lingkungan Penyelenggara: IYCF2018 se-Indonesia Delegasi Jawa Barat, Pada tanggal 23-25 Februari 2018. Di Denpasar Hotel Shunda;
2)       Pemenang Lomba Essay: Model Konservasi Hutan Indonesia. Penyelenggara: Hutan Itu Indonesia se-Jabodetabek Delegasi Bogor Pada Tanggal: 24-25 Maret 2018 di Jakarta: Hotel Grand Cemara;
3)     Pemenang Lomba Essay: Refleksi Konflik Dua Generasi Menjelang Kemerdekaan RI (Peristiwa Rengas Dengklok). se-Jabodetabek Delegasi Kota Bogor. Penyelenggara: Museum Proklamasi. Pada Tanggal: 2-4 Juli 2018 di Bandung;
4)    Pemenang Lomba Essay: Model Toleransi Beragama. Lomba Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2018. Penyelenggara: Ma’arif Institute. Pada tanggal: 6-13 Juli 2018 di Garut: Pondok Pesantren Daarul Arqam;
5)       Partisipasi Lomba Kajian Kitab Kuning se-Indonesia. Penyelenggara: Pondok Pesantren Khatamunnabiyyin. Pada tanggal: 4 Januari 2019 di Jakarta;
6)    Penulis Buku Surat untuk Kaki Langit Palestina yang hasil penjualannya di donasikan kepada anak-anak Palestina. Penyelenggara: Penerbit Indonesia Writting Club Tahun 2018;
7)      Lomba Essay: Bekali Hidupmu dengan Al-Qur’an. Penyelenggara: Saudara Satu Negara 2018. Pada Tanggal: 1-5 Oktober 2018 di Kuala Lumpur.
          Aktivitas Saat ini       :
1)        Kader Ulama Majelis Ulama Indonesia Kota Bogor;
2)        Imam Rawatib Masjid Al-Muhajirin Bogor;
3)        Ikatan Ahli Bencana Indonesia;
4)        Bulan Sabit Merah Indonesia Kota Bogor;
5)        Hutan Itu Indonesia;
6)        Sahabat Museum Proklamasi Jakarta;
7)        Anak Kajian se-Jabodetabek;
8)        Penelitian di Bidang Pendidikan dan Sosial

Referensi
Sugiarto Eko, 2017. Kitab PUEBI: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: CV.Andi Offset.
Mulyati Yeti, 2008. Bahasa Indonesia Edisi 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Widuroyekti Barokah, 2019. Materi Kuliah: Inisiasi 8 Menulis Ringkasan dan Resensi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Nazhip Rifan, 2019. Mitos Ibu. https://www.kompasiana.com/rifannazhif/5c89a5a87a6d8873cd65eba3/mitos-ibu?page=all  di unduh Pada Tanggal 20 November 2019. Pukul: 10.00 wib



Perbedaan Sinopsis dan Resensi

Pengertian:
Sinopsis merupakan pembuatan ringkasan dari sebuah karya sastra yang berbentuk prosa (cerpen dan novel) dan drama (Mulyati Yeti, 2008: 8.12) diperjelas oleh Ahmadi (1990: 89) dalam Mulyati Yeti (2008: 8.5) bahwa sinopsis biasanya digunakan untuk meringkas cerita atau lakon (dan hasil ringkasannya itu) sehingga tetap memperlihatkan langkah-langkah atau plot cerita itu. Umumnya sinopsis digunakan sebagai prolog dalam naskah drama tetapi dibatasi jumlah halamannya berkisar 2-4 halaman.
Resensi , Resensi menurut Keraf Gorys (1980: 274) menyatakan sebuah tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Tulisan dimaksudkan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian atau lebih dikenal dengan frase timbangan buku. Dengan kata lain timbangan-timbangan buku umumnya dilakukan terhadap karya tulis dari sebuah buku. Secara luas tentang resensi didefinisikan oleh Rusyana Yus (1996: 1) dalam Mulyati Yeti (2008: 8.26) bahwa tulisan mengenai buku pengetahuan, sastra, kamus, ensiklopedi dan sebagainya yang mengikhtisarkan, menggambarkan, menjelaskan dan menilai buku.
Berdasarkan pengertian antara sinopsis dan resensi jelas ada perbedaan saya dapat rincikan dari sinopsis merupakan ringkasan dari sebuah karya sastra contohnya digunakan dalam meringkas cerita atau lakon drama. Selain itu sinopsis dibatasi dalam penulisannya berkisar antara 2-4 halaman. Sedangkan Resensi sebuah ulasan mengenai nilai sebuah buku pengetahuan atau lebih dikenal dengan timbangan buku yang merekomendasikan kepada pembaca apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak.
Tujuan
Sinopsis meringkas sebuah karya sastra seperti novel, cerpen dan drama dengan tujuan mempermudah para tokoh dalam berdialog.
Resensi, Tujuan pokok melakukan resensi, yakni: a).memberikan sugesti kepada pembaca, apakah buku itu patut dibaca atau tidak?; b).melakukan dan memaparkan pendapatnya melalui sebuah timbangan atau penilaian, dalam arti peresensi akan memberikan pendapat dan penilaian tentang hasil resensi buku;  c).menyodorkan kriteria-kriteria yang jelas dalam mengemukakan pendapatnya dalam arti peresensi akan mengeksekusi kategori kriteria dan berikut pendapat peresensi tentang buku yang akan di resensi.
Berdasarkan tujuan sinopsis dan resensi jelas ada perbedaan saya dapat simpulkan bahwa sinopsis tidak ada unsur akademiknya, hanya berupa ajakan kepada para pembaca untuk membaca sinopsis yang alurnya tidak dirubah. Sedangkan resensi ada unsur akademiknya karena peresensi merekomendasikan kepada para pembaca apakah buku tersebut layak di baca atau tidak.
Fungsi
Sinopsis memberikan ringkasan atau gambaran umum tentang isi dan alur cerita yang akan dipentaskan. Himbauan atau mengajak kepada para pembaca untuk mengikuti alur cerita atau naskah.

Resensi, fungsi melakukan resensi buku, yakni: a).Informatif, yakni menginformasikan keberadaan buku dengan tujuan agar pembaca merasa tertarik untuk mngetahui lebih lanjut isi buku tersebut; b).Komersial, yakni mempromosikan buku yang akan diresensi dalam keuntungan berupa material; c).Akademik, yakni interaksi antara penulis, peresensi dan pembaca dalam membentuk wacana keilmuan penulisan buku serta berbagi pengalaman dan sudut pandang serta fokus resensi.
Berdasarkan fungsinya dapar disimpulkan perbedaan sinopsis dan resensi bahwa terletak pada unsur akademiknya yang lebih kental dimiliki ketika melakukan resensi buku. Saya akan mengkaji lebih dalam tentang resensi dari unsur fungsinya yang memiliki nilai informatif sebagai informasi keberadaan buku apakah layak di baca dan dibeli oleh pembaca. Unsur nilai komersial mempromosikan buku untuk dibeli setelah dilakukan resensi dari kelayakan sebuah buku dan yang terakhir adalah unsur nilai Akademik analisis kritis yang dilakukan oleh peresensi sebagai wujud dari kualitas intelektual yang memiliki wawasan luas dari hasil beberapa sumber bacaan yang diberikan kepada penulis melalui hasil karyanya berupa kritikan-kritikan penilaian dari kelebihan dan kekurangan buku yang diresensi. Hal-hal tersebut dapat dijadikan alasan perbedaan antara sinopsis dan resensi.

Disarikan dan Diolah dari Sumber:

Mulyati Yeti, et al. 2008. Bahasa Indonesia Edisi 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.