KUMPULAN TUGAS-TUGAS SEMESTER 1
Contoh membuat resensi, silahkan dikutip serta mencantumkan sumbernya.
SOAL TUGAS III BAHASA INDONESIA
Buatlah
Resensi atas cerpen “Mitos Ibu” tahap membuat resensi cerpen adalah:
1. Membuat ringkasan cerita
2. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan cerpen dari segi
unsur-unsur Intrinsik cerpen (unsur Intrinsik tema/alur
cerita/tokoh/penokohan/setting/amanat).
Resensi menurut Keraf Gorys (1980: 274)
menyatakan sebuah tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Tulisan
dimaksudkan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian atau lebih dikenal
dengan frase timbangan buku. Dengan
kata lain timbangan-timbangan buku umumnya dilakukan terhadap karya tulis dari
sebuah buku. Secara luas tentang resensi
didefinisikan oleh Rusyana Yus (1996: 1) dalam Mulyati Yeti (2008: 8.26) bahwa
tulisan mengenai buku pengetahuan, sastra, kamus, ensiklopedi dan sebagainya
yang mengikhtisarkan, menggambarkan, menjelaskan dan menilai buku.
Tujuan pokok
melakukan resensi cerpen mitos Ibu, yakni:
a).memberikan sugesti kepada kepada pembaca, apakah cerpen mitos Ibu patut
dibaca atau tidak?; b).melakukan dan memaparkan pendapatnya melalui sebuah timbangan
atau penilaian, dalam arti peresensi akan
memberikan pendapat dan penilaian tentang cerpen mitos Ibu; c).menyodorkan kriteria-kriteria yang jelas
dalam mengemukakan pendapatnya, dalam arti peresensi
akan mengeksekusi kategori kriteria dan berikut pendapat peresensi tentang cerpen mitos Ibu.
Selain itu
ada tiga fungsi melakukan resensi
cerpen, yakni: a).Informatif, yakni menginformasikan keberadaan cerpen mitos
Ibu dengan tujuan agar pembaca merasa tertarik untuk mngetahui lebih lanjut
alur ceritanya; b).Komersial, yakni mempromosikan cerpen mitos Ibu dalam
keuntungan berupa material; c).Akademik, yakni interaksi antara penulis cerpen
mitos Ibu dan peresensi dalam membentuk wacana keilmuan penulisan cerpen serta
berbagi pengalaman dan sudut pandang serta fokus resensi.
Prosedur
pembuatan resensi dibagi dua jika
difokuskan terhadap resensi buku, tetapi disini saya akan melakukan resensi
cerpen mitos Ibu sesuai petunjuk tugas 3 mata kuliah Bahasa Indonesia dengan
mengolah prosedur pembuatan resensi cerpen mitos Ibu, yakni: a). menceritakan
isi cerpen mitos Ibu yang akan diresensi; b).berisi kupasan dan bahasan akan
isi cerpen sebagai hasil kerja dari analisis kritis serta dilengkapi dengan
perbandingan-perbandingan dengan karya cerpen lainnya yang serupa. Gambaran
umum dalam isi cerpen dianggap penting, yakni: a).pembaca belum tentu pernah
membaca cerpen mitos Ibu sekalipun cerpen tersebut sudah terbit pada tanggal 14
Maret 2019 Pukul: 07.51 wib dan Diperbaharui pada tanggal 14 Maret 2019 Pukul:
21.25 wib oleh penulis Nazip Rifan dalam halaman kompasiana.com dengan
keterangan bahwa penulis akunnya telah diblokir karena melanggar syarat dan
ketentuan Kompasiana; b).pembaca cerpen mitos Ibu harus mendapatkan keputusan
untuk membaca atau tidak membaca resensi
cerpen ini. ada yang terlupakan alasan para pembaca dengan mengandalkan hasil
resensi karena tidak dapat membaca cerpen aslinya. Peresensi dituntut melakukan pembahasan cerpen mitos Ibu dengan
ketajaman analisis dan tingkat kekritisan sebagai wujud kualitas dari presensi.
Bekal peresensi yang baik, yakni:
a).memiliki latarbelakang pengetahuan yang memadai mengenai tema cerpen mitos
Ibu; b).memiliki latarbelakang pengetahuan bahasa dan kosakata yang memadai
agar mampu menyampaikan gagasan/ide kepada para pembaca.
Peresensi harus melakukan beberapa tahapan dalam teknik pembuatan resensi, yakni: a).teknik cutting and glueing dapat disarikan bahwa
meresensi buku atau cerpen menggunakan teknik merekatkan potongan-potongan
tulisan. Potongan tulisan yang menarik perhatian peresensi dengan mencerminkan gagasan-gagasan inti penulis cerpen
mitos Ibu. Keterkaitan kumpulan potongan materi pilihan yang akan diresensi
lalu dilakukan penyusunan dan dirangkaikan kedalam sebuah susunan yang logis
atau dengan kata lain proses ini disebut dengan tahap perekatan atau
penempelan. Proses tahap ini harus diperhatikan kesatuan dan kepaduan dari
gagasan alur cerita. Peresensi seolah-olah
harus menghadirkan si penulis dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Dengan
kata lain peresensi memiliki peran
menyambungkan, mengalirkan dan mengaitkan gagasan yang satu dengan gagasan yang
lain. pesan dan perspektif peresensi
terhadap objek resensi harus
terefleksikan dalam judul cerpen mitos Ibu. Sedangkan kesan dan opini peresensi dimasukkan dalam
kalimat/paragraf pembuka resensi dan
ada bagian kesimpulan sebagai penutup. Begitu pula dengan komentar dan ulasan
peresensi harus bertolok atau bersebrangan pada gagasan penulisnya; b).teknik focusing
memusatkan perhatian kepada satu aspek tertentu yang disajikan dalam objek resensi. Dalam hal ini menekankan kepada
bagian-bagian yang menonjol atau menarik perhatian seperti aspek tema, metode
pembahasan yang digunakan penulis, sampul luar, sosok penulis cerpen mitos Ibu,
gaya penyajian dan yang lebih menarik tentang latarbelakang penerbitan karya
tulisan tersebut, dan: c).teknik comparing peresensi melakukan perbandingan-perbandingan yang terdapat dalam
objek resensi dengan sumber lain
dengan topik yang sejenis atau yang berbeda. Ada yang menarik dalam proses
tahap teknik comparing peresensi
wajib membaca beberapa sumber bacaan dengan tujuan agar memperluas wawasan dan
ketajaman analisis hasil resensinya. Presensi
dituntut dapat menemukan kelebihan dan kekurangan yang terdapat dari sebuah
buku atau cerpen sesuai yang akan diresensi.
Deskripsi
tentang resensi dari mulai
pengertian, tujuan pokok, fungsi resensi,
prosedur pembuatan resensi, kualitas
peresensi, tahap dan teknik pembuatan
resensi dan tahap terakhir sebagai
penunjang praktik menulis resensi
adalah sistematika penulisan resensi.
Kegiatan tugas wajib III mata kuliah
Bahasa Indonesia dalam modul 8 membahas tentang menulis ringkasan dan resensi yang disarikan dan diolah
oleh saya sebagai peresensi selain
memenuhi tugas akhir matakuliah sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan
keterampilan menulis resensi. Anda
akan saya ajak berlatih dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis resensi cerpen mitos Ibu, Anda dapat mendownload pada: https://www.kompasiana.com/rifannazhif/5c89a5a87a6d8873cd65eba3/mitos-ibu?page=all
Cerpen Mitos Ibu
14
Maret 2019 07:51 Diperbarui: 14 Maret
2019 21:25 1 21 16
Terpaksa aku
mengelus dada ketika ibu mertua menyuruhku dan istri harus tinggal di rumahnya
selama kehamilan istri. Ada-ada saja! Padahal rumah ibu mertua cukup jauh
dari kantor. "Ini penting demi keselamatan istrimu!" ketus ibu mertua
ketika menjemput kami. Wajahnya masam karena aku sempat mengeluhkan jarak
tempuh dari rumahnya ke kantorku lumayan lama. Itu artinya, aku harus lebih
pagi bangun. Lebih pagi bersiap-siap ke kantor. Dan lebih ngebut menggeber
motor. "Kalian sedang menanti anak pertama. Jadi, harus hati-hati! Kalian
tak mengerti apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh perempuan hamil. Nanti
kalau terjadi apa-apa, aku pasti menyesal karena tak mengajari
kalian."Kepalaku pening. Kubantu ibu mertua memasukkan pakaian ke dalam
tas. Ocehannya terbiar mengalir, dan tak kukomentari lagi. Istri hanya
menanggapi dengan desah atau anggukan kepala.Dia juga sama sepertiku tak
sanggup menolak kehendak ibu. Padahal di rumah kontrakan kami masih banyak yang
harus dikerjakan. Seperti pesanan kue dari pelanggan setia. Menurut ibu mertua,
semua itu tak perlu diurusi dulu. Menunggu kelahiran anak pertama kamilah yang
harus diperhatikan lebih cermat.
Hari pertama
yang menjemukan di rumah ibu mertua. Ada-ada saja mitos yang dikerjakannya
sehingga membuatku geleng-geleng kepala. Istri disuruh menggantungkan gunting
kecil di bh-nya, yang sebelumnya berpengait peniti. Aku takut sewaktu-waktu
kulit dada istri terluka tertusuk mata gunting. Ibu mertua langsung menggeram.
Dia menyalahkan pasangan muda sekarang selalu menganggap semua petuah orangtua
hanyalah mitos. "Ini demi kebaikan kalian!" Ibu mertua berlalu ke
dapur. Istri menendang kakiku, sebagai pertanda menyuruhku diam. Dia tak ingin
kekesalan ibu berujung emosi yang meledak-ledak. Bila demikian, tingkah sang
ibu seperti anak kecil. Di usia menjelang enam puluh lima tahun ini, dia mulai
pikun.
Maryani,
staff personalia di kantorku, manggut-manggut ketika kuceritakan tentang
perilaku ibu mertua. Mulutnya berdecap-decap karena kepedasan menikmati rujak
mangga muda. Dia juga seperti istriku, sedang hamil. Hanya saja usia
kehamilannya sudah mendekati sembilan bulan, sedangkan istriku baru dua
bulanan. "Apakah kondisi seperti yang kualami itu terjadi juga kepadamu dan
suami?" kejarku. Dia mengelap keringat di kening. Menatap lurus ke penjual
es krim, dan memesan dua mangkok."Apa yang kau alami tak terjadi kepadaku
dan suami. Kau tak ingat, papaku seorang pengusaha burung walet, dan mamaku
dokter umum? Mereka tak memiliki pemikiran tentang mitos-mitos. Semua harus
real, harus sesuai dengan medis. Jadi saranku, boyonglah istrimu kembali ke
rumah kontrakanmu. Pertama, agar kau dan istrimu tak pening mendengar ocehan
seorang ibu yang sangat memercayai mitos-mitos. Kedua, agar kau bisa tepat
waktu tiba di kantor. Ingat, Hand. Bos bisa marah besar karena kau sudah dua
hari ini terlambat masuk kerja. Bisa-bisa kau diberi surat peringatan. Kau
mau?" ujung perkataannya setengah mengancam. Bos memang keterlaluan ketika
memberi surat peringatan. Dan tak tanggung-tanggung, peringatan ketiga
seringkali dijatuhkan tanpa melewati jenjang peringatan kesatu dan kedua. "Tapi
ibu mertua pasti marah. Aku tak ingin dikutuk menjadi mantu yang durhaka.
Posisi ibu mertua sama saja dengan ibu kandung. Artinya, dosa durhaka kepada
kedua perempuan itu, serupa." "Ya, terserah kaulah! Yang penting
semua berjalan aman-aman."Aku menggerutu. Heran! Apakah semua pasangan
yang sedang menunggu kelahiran anak pertama selalu dikelilingi mitos-mitos?
Kecuali Maryani tentunya. Apakah ibu mertua-ibu mertua selalu memperlakukan
anak-anak mereka seperti bayi yang belajar berjalan? Uh, aku tak sadar
menggebrak meja. Piring, mangkok dan gelas berlompatan di situ. Untung ketiga
perangkat makanan tersebut telah kosong-melompong. Jadi tak mengotori pakaian
Maryani. Perempuan itu hanya melotot kesal. "Sorry! Biar kutraktir saja
kau atas nasehatmu tadi," ucapku merasa bersalah. "Terima
kasih!" Wajah tegang Maryani kembali mengendur.
Apa yang
selalu kukeluhkan sejak ibu mertua memboyong aku dan istri ke rumahnya,
akhirnya mencapai titik nadir. Ibu mertua menginginkan istriku melahirkan bayi
laki-laki. Karena kelak laki-laki itulah yang akan membela adik-adik, juga
orangtuanya. Tapi bukan pasal itu yang membuat keluhanku berkepanjaangan.
Melainkan syarat untuk mendapatkan bayi laki-laki itu. Setiap kali bangun
tidur, dan kala istri menyambutku pulang kantor, tak ada lagi aura keindahan
yang ditunjukkannya kepadaku. Dia selalu mengenakan daster belel warisan ibu
mertua. Wajah tak lagi berbedak, bibir tiada bergincu. Deodoran yang biasanya
selalu menyinggahi pangkal bawah lengannya, pun tak pernah digunakan, sehingga
membuarkan bau kurang sedap. Apalagi sehabis dia mengupas bawang merah atau
putih misalnya. "Ini kehendak ibu!" katanya saat kami rebahan di
kasur dengan mata yang tak mau diajak terpejam. "Kehendak bagaimana?"
"Ya, itu, tuh! Karena ibu ingin aku melahirkan bayi laki-laki."Aku
terperanjat. Aku duduk dan memperhatikan wajah istri yang terlihat samar-samar diterangi
cahaya lampu lima watt. "Apa hubungan bayi laki-laki dengan penampilanmu
yang tak menarik ini? Kau tak takut kalau tiba-tiba aku tergoda perempuan lain
tersebab kau berubah kucel dan maaf, beraroma kurang sedap?"Istri
terperanjat. Dia duduk, dan balas memerhatikan wajahku yang terlihat samar
diterangi cahaya lampu lima watt. "Jadi, ada niatmu ingin berselingkuh,
Mas? Setelah aku hampir memberimu seorang anak!" Dia emosi. Aku langsung
mengguncang kedua bahunya. "Bukan, Fe! Bukan niatku begitu. Aku hanya kesal,
kenapa semua menjadi begini. Ibu telah membuat kita kacau-balau,"
keluhku."Ibu mengatakan aku tak boleh bersolek dan mempercantik diri kalau
ingin melahirkan bayi laki-laki. Bila kulanggar, kita bisa memperoleh bayi
perempuan," jelasnya.
"Apa ibu tukang ramal? Apa dia
mau menyaingi Tuhan?" geramku. Istri buru-buru menutup mulutku dengan
telapak tangan kanannya. "Pokoknya besok kau harus bersolek sehingga rasa
cinta dan nafsuku tak padam kepadamu."Benar saja, besok pagi telah
kutemukan istri dengan pakaian daster baru, dan rambutnya di sisir rapi. Dia
berbedak tipis-tipis, serta membuar aroma menggoda dari pangkal bawah
lengannya. Benar pula ibu mertua tak setuju. Dia hanya menggeram sekali.
Kemudian sepulang dari kantor aku menemukan barang-barangku dan istri telah
disusun di ruang tamu. Ibu menyuruh kami pulang saja ke rumah kontrakan. Dia
kecewa karena kami tak mau menuruti petuahnya."Tapi ibu tak menganggapku
mantu durhaka?" "Tidak! Aku tak sampai menganggap demikian. Mungkin
aku yang salah telah memaksakan kehendak kepada kalian. Pulanglah!" Aku
bersorak dalam hati. Akhirnya terbebas dari ocehan ibu mertua. Akhirnya
terlepas dari mitos-mitos yang membuat kepalaku seperti komidi putar. Segera
aku dan istri kembali ke rumah kontrakan dan menata hidup seperti dulu, sebelum
ibu mertua mengacaukannya.
Tujuh bulan
usia kehamilan istriku, akhirnya kandungannya di-scan. Ibu mertua turut serta
karena ingin mengetahui jenis kelamin bakal cucunya. Aku hanya mesem-mesem. "Nah,
ini gambar anak Bapak! Kelihatannya sehat-sehat!" kata dokter. "Jenis
kelaminnya apa, Pak Dokter?" Ibu mertua tak sabaran. "Perempuan!"
jawab dokter. Ibu mertua langsung memelototiku. "Itulah kalau tak mau
mendengar petuah orangtua. Sudah kukatakan jangan bersolek-solek, malah
membangkang. Jadinya, calon cucuku perempuan, kan? "Laki-laki dan
perempuan sama saja kok, Bu!" Dokter tersenyum-senyum tanpa mengerti arah
pembicaraan ibu mertua. Sementara aku hanya membisu. Aku berpikir semuanya
berjalan sesuai kehendak Tuhan.
- Sebelum
memulai berlatih merensi cerpen mitos Ibu, Peresensi
harus memiliki sistematika penulisan resensi
cerpen mitos Ibu, yakni:Judul resensi menurut
mulyati Yeti (2008: 8.28) bahwa judul boleh sama dan boleh berbeda dengan judul
buku yang diresensi, judul harus menarik atau eye cathing) dengan ,maksud agar pembaca tertarik untuk membaca.
Disini presensi akan memberikan judul yang sama dengan aslinya yakni Mitos Ibu;
- Perwajahan (Jati diri cerpen) bagian ini
lebih dikenal dengan heading,
disajikan dalam tabel.I
PERWAJAHAN (JATI DIRI BUKU)
|
a.
Judul Cerpen
|
Mitos Ibu
|
b.
Nama Penulis
|
Nazip Rifan
|
c.
Nama Penerbit dan Tahun Terbit
|
Kompasiana.com Tahun 2019.
|
d.
Jumlah Halaman
|
1 Halaman
|
e.
Jenis Huruf
|
Normal Font
|
f.
Halaman Sampul (cover)
|
Jingga
|
g.
Harga cerpen
(Boleh
dicantumkan atau tidak dicantumkan)
|
Free/Gratis
|
Sumber:Disarikan dan diolah dari
Modul 8 Kegiatan Belajar 2 Menulis Resensi (2019).
3. Pembukaan merupakan alenia pembuka (dalam teknik peulisan berita yang lebih dikenal
dengan istilah lead, yakni disajikan
dalam tabel.II
PEMBUKAAN
(ALENIA PEMBUKA)
|
a.
Uraian, deskripsi, rangkuman yang menjelaskan isi
cerpen mitos Ibu atau lebih dikenal dengan gambaran umum dari cerpen mitos Ibu:
Ibu mertua menyuruhku dan istri
harus tinggal di rumahnya selama kehamilan menanti anak pertama kami. "Ini
penting demi keselamatan istrimu!" ketus ibu mertua, padahal jarak
tempuh dari rumahnya ke kantorku lumayan lama. Ibu meminta Istri menggantungkan
gunting kecil di bh-nya yang sebelumnya berpengait peniti. Aku takut
sewaktu-waktu kulit dada istri terluka karena tertusuk mata gunting tetapi Ibu
mertua menggeram dan menyalahkan pasangan muda sekarang selalu menganggap
semua petuah orangtua hanyalah mitos.
Jadi saranku, “boyonglah istrimu
kembali ke rumah kontrakanmu” begitu ucapan Maryani Staff Personalia teman
sekantorku. Mencapai titik nadir ketika Ibu mertua menginginkan Istriku
melahirkan bayi laki-laki dan menyuruh tak boleh bersolek dan mempercantik
diri kalau ingin melahirkan bayi laki-laki. Bila kulanggar, kita bisa
memperoleh bayi perempuan begitu alasan istriku ...
|
b.
Kutipan bagian-bagian yang memperjelas isi cerpen:
"Ini penting demi keselamatan
istrimu!" ketus ibu mertua. Ibu meminta Istri menggantungkan gunting
kecil di bh-nya yang sebelumnya berpengait peniti dan tidak boleh bersolek
selama hamil. Ibu mertua menggeram dan menyalahkan pasangan muda sekarang
selalu menganggap semua petuah orangtua hanyalah mitos.
|
c.
Kaitannya dengan hal diluar cerpen mitos Ibu (bila
perlu):
Perubahan sosial adalah keadaan
dinamis yang terjadi pada kelompok sosial, interaksi sosial, stratifikasi
sosial dan Institusi sosial. Perubahan budaya perubahan yang terjadi dalam
sistem ide yang dimiliki bersama dalam berbagai bidang kehidupan dari
masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan sosial budaya terjadi pada
kebudayaan, kepercayaan, pengetahuan, bahasa dan teknologi.
Jika perubahan-perubahan yang
terjadi dikaitkan dengan isi cerpen mitos Ibu yang masih mempercayai
menggantungkan gunting kecil di bh perempuan hamil agae tidak diganggu oleh
makhluk-makhluk halus. Padahal tidakada korelasi antara gunting kecil di bh, perempuan
hamil dan makhluk halus.
|
d.
Kaitannya dengan konteks situasi yang sedang menghangat
di masyarakat:
Perkembangan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi mengantarkan masyarakat kepada pemikiran yang
rasional dan menganggap semua petuah orangtua hanyalah mitos yang akan
menghambat aktivitasnya sebagai masyarakat modern. Teknologi yang semula
hanya semula peruntukkan sebagai alat inovasi untuk mempermudah aktivitas
manusia justru saat ini menjadi pengarah hidup manusia.
Kita ambil contoh dalam
pemanfaatan teknologi USG sebagai alat pendeteksi keberadaan dan kesehatan
bayi dalam rahim seorang Ibu tetapi oleh sebagian masyarakat yang masih buta
teknologi dijadikan sebagai alat untuk mengetahui jenis kelamin dan tanggal
kelahiran bayi. Meminjam pernyataan penulis diakhir cerita setelah istrinya
dilakukan USG oleh dokter, “Aku berpikir semuanya berjalan sesuai kehendak
Tuhan”.
|
e.
Bersifat pemancing untuk menarik perhatian pembaca:
"Tapi ibu tak menganggapku
mantu durhaka?" karena tidak mengikuti kehendak Ibu. Aku tak ingin
dikutuk menjadi mantu yang durhaka. Posisi ibu mertua sama saja dengan ibu
kandung. Artinya, dosa durhaka kepada kedua perempuan itu, serupa ...
|
Sumber:Disarikan
dan diolah dari Modul 8 Kegiatan Belajar 2 Menulis Resensi (2019).
4. Pembahasan berisi
komentar, ulasan, analisis kritis dan penilaian terhadap isi cerpen mitos Ibu dengan dua aspek antara lain aspek luar dan aspek isi, disajikan dalam tabel.III.
PEMBAHASAN
|
a.
Analisis terhadap isi cerpen mitos Ibu disertai
dengan alasan dan bukti yang ada dalam isi cerpen:
1) Tema tentang menanti kelahiran anak pertama;
2)
Setting lokasi dalam cerpen, yakni: Rumah Kontrakan
dan Jarak antara Rumah Ibu Mertua dan kantor;
3) Tokoh cerita: Ibu Mertua, Aku, Istri dan Maryani;
4)
Karakter Tokoh dalam cerpen mitos Ibu:
(a) Ibu Mertua: Orangtua yang kolot
masih memegang teguh petuah orangtua dulu yang lebih kental dengan
mitos-mitos kepercayaan tentang perempuan hamil dan benda-benda yang dapat
dijadikan penangkal mistik.
(b) Hand: Hidup dalam perkembangan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dituntut untuk berpikir
rasional tanpa menghilangkan rasa hormat kepada orangtua serta mertua yang
memiliki posisi kedudukan yang sama.
(c) Istri: Anak yang patuh taat kepada
orangtua dan suami;
(d) Maryani: bersifat rasional karena
didukung oleh lingkungan sekitarnya ayahnya seorang pengusaha burung walet
dan Ibunya seorang dokter umum keduanya tidak memiliki pemikiran tentang
mitos-mitos, semua harus real dan harus sesuai dengan medis;
(e) Dokter sebagai tenaga medis bertugas memeriksa rahim perempuan
5) Alur cerita cerpen: Kuatnya pengaruh budaya Patriarki dan Ibu mertua yang lebih
mengutamakan peran laki-laki daripada perempuan. Perspektif Ibu mertua dengan
lahirnya anak laki-laki yang dipercayainya kelak yang akan membela adik-adik
serta orangtuanya.
6) Akun Penulis mitos Ibu di blokir oleh Kompasiana
karena melanggar syarat dan ketentuan pihak kompasiana.com. Peresensi mencoba menghubungi pihak
Kompasianan mempertanyakan sebab terblokirnya akun penulis Nazip Rifan cerpen
mitos Ibu tetapi belum ada konfirmasi. Berdasarkan data Profil penulis dapat
dijadikan beberapa informasi, diantaranya: Penulis menjadi anggota kompasiana
pada tanggal 8 Agustus 2011, jumlah followers 242 dengan jumlah penelusuran
sebanyak 146.218 dan komentar sebanyak 1.141
7) Rekomendasi peresensi kepada pembaca dapat membaca tentang
cerpen mitos Ibu dengan mengambil hikmahnya bahwa tidakada kolerasi antara
perempuan hamil dengan gunting yang dikaitkan di tali bh apalagi jika tidak
bersolek hanya karena berharap mendapatkan anak laki-laki. Anak adalah
anugerah dari Allah Swt yang harus kita syukuri tanpa memandang jenis
kelaminnya. Pembaca cerpen harus sesuai dengan usia agar tidak terjebak dalam
perilaku yang salah.
|
b.
Analisis kekuatan dan kelemahan (bila ada) isi
cerpen yang di resensi:
Kekuatan isi cerpen mitos Ibu:
1) Hand sebagai anak menantu yang baik sekalipun tidak
mempercayai mitos-mitos dan tetap mengagungkan rasa hormat kepada Ibu
mertuanya yang ia pahami jika melukai hatinya itu sama saja dengan melukai
Ibu kandungnya sendiri. Disini terlihat hand adalah seorang pria dan suami
yang memiliki pengetahuan agama dengan baik. Penulis berhasil hadir dalam
hati pembaca karena dapat mengikuti alur ceritanya.
2) Istri yang patuh dan taat kepada Ibu dan Suaminya
terlihat ia mengikuti semua perintah Ibunya walaupun bertolak belakang dengan
keinginannya. Ia meyakini surga ada di bawah telapak kaki Ibu walaupun
bertolak pendapat tetapi bukan berarti menghilangkan rasa hormat pada Ibu
yang telah melahirkannya.
3) Kualitas Penulis cerpen mampu menggiring pembaca
dari mulai pembukaan alenia pertama sampai terakhir melakukan closing dengan
baik, meminjam kalimatnya, “Sementara aku hanya membisu”. Aku berpikir
semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan.
Kelemahan isi cerpen mitos Ibu:
1) Mengutip dari percakapan hand dan
Istrinya: “Kau tak takut kalau tiba-tiba aku tergoda perempuan lain tersebab
kau berubah kucel dan maaf, beraroma kurang sedap?"Istri terperanjat.
Dia duduk, dan balas memerhatikan wajahku yang terlihat samar diterangi
cahaya lampu lima watt. "Jadi, ada niatmu ingin berselingkuh, Mas?
Setelah aku hampir memberimu seorang anak!"
2) "Pokoknya besok kau harus
bersolek sehingga rasa cinta dan nafsuku tak padam kepadamu." Point 1
dan 2 tidak dapat dihadirkan dalam bacaan remaja atau generasi milenial yang
lebih banyak sebagai pengguna media sosial kompasiana, jika dicermati akun
penulis mitos Ibu diblokir oleh pihak kompasiaana ada dua asumsi, yakni
plagiatisme menguktip hasil karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya
atau terkesan vulgar.
3) Hand tidakmampu menyelesaikan permasalahan
yang terjadi dalam rumah tangganya hingga hand harus melibatkan Maryani guna
mendapatkan solusi yang terbaik. Padahal kehadiran pihak ketiga tidakakan
memberikan solusi terbaik dalam permasalahan yang dihadapinya karena umumnya
teman curhat yang berbeda jenis kelamin akan menimbulkan permasalahan yang
baru.
|
c. Pembandingan dengan sumber-sumber yang berbeda:
Pembandingan dengan sumber-sumber bacaan dalam
bentuk cerpen yang alur ceritanya tentang mitos Ibu yang menginginkan
kelahiran cucu pertamanya laki-laki dengan kepercayaan bahwa anak laki-laki
kelak akan mampu menjaga dan melindungi adik-adiknya serta orangtuanya. Jika
kita cermati budaya ini kental dengan budaya partiarki yang sudah tergeser
oleh budaya luar yang lebih menuntut persamaan hak antara laki-laki dan
perempuan dalam urusan domestik dan publik.
|
d. Gagasan-gagasan penulis mengenai cerpen mitos Ibu:
Gagasan penulis memberikan pencerahan kepada pembaca
khususnya suami istri yang baru berumah tangga agar tidak mempercayai
mitos-mitos dan budaya partiarki yang lebih kental mengutamakan peran
laki-laki daripada perempuan dalam posisi domestik dan publik.
|
Sumber:Disarikan
dan diolah dari Modul 8 Kegiatan Belajar 2 Menulis Resensi (2019).
5. 5. Penutup merupakan
penilaian peresensi mengenai perlu tidaknya pembaca hasil resensi atau memiliki
cerpen tersebut, disajikan dalam
tabel.IV
PENUTUP
|
Rekomendasi untuk Pembaca cerpen Mitos Ibu:
Peresensi menawarkan hasil temuan
dalam cerpen mitos Ibu ada beberapa kalimat yang tidakdapat dikonsumsi oleh
usia remaja. Cerpen ini dapat mengapresiasi estetikanya serta mengambil makna
dan hikmah bahwa berbeda pendapat dengan orangtua boleh saja tetapi jangan
sampai menghilangkan rasa hormat kita kepada orangtua yang telah melahirkan,
merawat, mendidik dan membesarkan kita.
|
6. Identitas
Peresensi guna menunjukan otoritas dan kredibilitas peresensiny
Nama Lengkap : Achmad Harristhana Mauldfi
Sastraatmadja
Fakultas/Prodi : FISIP/Sosiologi (S1)
NIM : 042024154
Prestasi yang diraih jenjang tingkat Nasional dan
Internasional, yakni:
1) Pemenang
Lomba Essay: Optimalisasi Sumberdaya Alam Menuju Pesantren Mandiri Energi dan
Ramah Lingkungan Penyelenggara: IYCF2018 se-Indonesia Delegasi Jawa Barat, Pada
tanggal 23-25 Februari 2018. Di Denpasar Hotel Shunda;
2) Pemenang
Lomba Essay: Model Konservasi Hutan Indonesia. Penyelenggara: Hutan Itu
Indonesia se-Jabodetabek Delegasi Bogor Pada Tanggal: 24-25 Maret 2018 di
Jakarta: Hotel Grand Cemara;
3) Pemenang
Lomba Essay: Refleksi Konflik Dua Generasi Menjelang Kemerdekaan RI (Peristiwa
Rengas Dengklok). se-Jabodetabek Delegasi Kota Bogor. Penyelenggara: Museum
Proklamasi. Pada Tanggal: 2-4 Juli 2018 di Bandung;
4) Pemenang
Lomba Essay: Model Toleransi Beragama. Lomba Jambore Pelajar Teladan Bangsa
2018. Penyelenggara: Ma’arif Institute. Pada tanggal: 6-13 Juli 2018 di Garut:
Pondok Pesantren Daarul Arqam;
5) Partisipasi
Lomba Kajian Kitab Kuning se-Indonesia. Penyelenggara: Pondok Pesantren Khatamunnabiyyin.
Pada tanggal: 4 Januari 2019 di Jakarta;
6) Penulis Buku
Surat untuk Kaki Langit Palestina yang hasil penjualannya di donasikan kepada
anak-anak Palestina. Penyelenggara: Penerbit Indonesia Writting Club Tahun
2018;
7) Lomba Essay:
Bekali Hidupmu dengan Al-Qur’an. Penyelenggara: Saudara Satu Negara 2018. Pada
Tanggal: 1-5 Oktober 2018 di Kuala Lumpur.
Aktivitas
Saat ini :
1)
Kader Ulama
Majelis Ulama Indonesia Kota Bogor;
2)
Imam Rawatib
Masjid Al-Muhajirin Bogor;
3)
Ikatan Ahli
Bencana Indonesia;
4)
Bulan Sabit
Merah Indonesia Kota Bogor;
5)
Hutan Itu
Indonesia;
6)
Sahabat
Museum Proklamasi Jakarta;
7)
Anak Kajian se-Jabodetabek;
8)
Penelitian
di Bidang Pendidikan dan Sosial
Referensi
Sugiarto Eko, 2017. Kitab PUEBI: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
CV.Andi Offset.
Mulyati Yeti, 2008. Bahasa Indonesia Edisi 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Widuroyekti Barokah, 2019. Materi Kuliah: Inisiasi 8 Menulis Ringkasan dan Resensi. Tangerang
Selatan: Universitas Terbuka.
Nazhip
Rifan, 2019. Mitos Ibu. https://www.kompasiana.com/rifannazhif/5c89a5a87a6d8873cd65eba3/mitos-ibu?page=all di unduh Pada Tanggal 20 November 2019. Pukul:
10.00 wib
Perbedaan
Sinopsis dan Resensi
Pengertian:
Sinopsis merupakan
pembuatan ringkasan dari sebuah karya sastra yang berbentuk prosa (cerpen dan novel) dan drama
(Mulyati Yeti, 2008: 8.12) diperjelas oleh Ahmadi (1990: 89) dalam Mulyati Yeti
(2008: 8.5) bahwa sinopsis biasanya
digunakan untuk meringkas cerita atau lakon (dan hasil ringkasannya itu)
sehingga tetap memperlihatkan langkah-langkah atau plot cerita itu. Umumnya sinopsis digunakan sebagai prolog dalam naskah drama tetapi
dibatasi jumlah halamannya berkisar 2-4 halaman.
Resensi , Resensi menurut Keraf Gorys (1980: 274)
menyatakan sebuah tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku.
Tulisan dimaksudkan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian atau lebih
dikenal dengan frase timbangan buku.
Dengan kata lain timbangan-timbangan buku umumnya dilakukan terhadap karya
tulis dari sebuah buku. Secara luas tentang resensi
didefinisikan oleh Rusyana Yus (1996: 1) dalam Mulyati Yeti (2008: 8.26) bahwa
tulisan mengenai buku pengetahuan, sastra, kamus, ensiklopedi dan sebagainya
yang mengikhtisarkan, menggambarkan, menjelaskan dan menilai buku.
Berdasarkan pengertian antara sinopsis dan resensi jelas ada perbedaan saya dapat rincikan dari sinopsis merupakan ringkasan dari sebuah
karya sastra contohnya digunakan dalam meringkas cerita atau lakon drama.
Selain itu sinopsis dibatasi dalam
penulisannya berkisar antara 2-4 halaman. Sedangkan Resensi sebuah ulasan mengenai nilai sebuah
buku pengetahuan atau lebih dikenal dengan timbangan buku yang merekomendasikan
kepada pembaca apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak.
Tujuan
Sinopsis meringkas
sebuah karya sastra seperti novel, cerpen dan drama dengan tujuan mempermudah
para tokoh dalam berdialog.
Resensi, Tujuan pokok
melakukan resensi, yakni:
a).memberikan sugesti kepada pembaca, apakah buku itu patut dibaca atau tidak?;
b).melakukan dan memaparkan pendapatnya melalui sebuah timbangan atau
penilaian, dalam arti peresensi akan
memberikan pendapat dan penilaian tentang hasil resensi buku; c).menyodorkan
kriteria-kriteria yang jelas dalam mengemukakan pendapatnya dalam arti peresensi akan mengeksekusi kategori
kriteria dan berikut pendapat peresensi
tentang buku yang akan di resensi.
Berdasarkan
tujuan sinopsis dan resensi jelas ada perbedaan saya dapat
simpulkan bahwa sinopsis tidak ada
unsur akademiknya, hanya berupa ajakan kepada para pembaca untuk membaca sinopsis yang alurnya tidak dirubah. Sedangkan
resensi ada unsur akademiknya karena
peresensi merekomendasikan kepada para pembaca apakah buku tersebut layak di
baca atau tidak.
Fungsi
Sinopsis memberikan
ringkasan atau gambaran umum tentang isi dan alur cerita yang akan dipentaskan.
Himbauan atau mengajak kepada para pembaca untuk mengikuti alur cerita atau
naskah.
Resensi,
fungsi
melakukan resensi buku, yakni:
a).Informatif, yakni menginformasikan keberadaan buku dengan tujuan agar
pembaca merasa tertarik untuk mngetahui lebih lanjut isi buku tersebut; b).Komersial,
yakni mempromosikan buku yang akan diresensi dalam keuntungan berupa material;
c).Akademik, yakni interaksi antara penulis, peresensi dan pembaca dalam membentuk wacana keilmuan penulisan buku
serta berbagi pengalaman dan sudut pandang serta fokus resensi.
Berdasarkan
fungsinya dapar disimpulkan perbedaan sinopsis
dan resensi bahwa terletak pada unsur
akademiknya yang lebih kental dimiliki ketika melakukan resensi buku. Saya akan mengkaji lebih dalam tentang resensi dari unsur fungsinya yang
memiliki nilai informatif sebagai informasi keberadaan buku apakah layak di
baca dan dibeli oleh pembaca. Unsur nilai komersial mempromosikan buku untuk
dibeli setelah dilakukan resensi dari
kelayakan sebuah buku dan yang terakhir adalah unsur nilai Akademik analisis
kritis yang dilakukan oleh peresensi
sebagai wujud dari kualitas intelektual yang memiliki wawasan luas dari hasil
beberapa sumber bacaan yang diberikan kepada penulis melalui hasil karyanya
berupa kritikan-kritikan penilaian dari kelebihan dan kekurangan buku yang
diresensi. Hal-hal tersebut dapat dijadikan alasan perbedaan antara sinopsis dan resensi.
Disarikan dan Diolah dari Sumber:
Mulyati
Yeti, et al. 2008. Bahasa Indonesia Edisi
1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.