Minggu, 12 September 2021

PENDIDIKAN BERKARAKTER DALAM BINGKAI ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

              PENDIDIKAN BERKARAKTER DALAM BINGKAI ISLAM 

                                          RAHMATAN LIL ALAMIN

Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja1 UNSIKA FAI Prodi Pendidikan Agama Islam2

achmadmauldfi@gmail.com

 

Abstrak:

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.Tujuan pendidikan tidak sekedar menstransfer knowledge atau to change mental attitude saja, sebaiknya orientasi pendidikan lebih ditekankan pada pembentukan karakter peserta didik. Ketergantungan manusia terhadap mobile phone, internet dan media sosial sangat tinggi tanpa disadari berimfact pada kekacauan yang bersifat normatif.

Kata kunci: Pendidikan, Karakter, Rahmatan Lil Alamin.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Upaya mewujudkan tujuan pendidikan tidak sekedar menstransfer knowledge atau to change mental attitude saja, sebaiknya orientasi pendidikan lebih ditekankan pada pembentukan karakter peserta didik. Ide krusialnya pendidikan karakter untuk membangun peradaban Bangsa diinisiasi oleh Nuh Muhammad (2016) dalam Anwar Syaiful (2016: 2) dengan harapan dapat mengembalikan citra bangsa pada tempo dulu, yakni bangsa yang beradab, santun, toleran, sopan (berakhlak/berbudi pekerti) dan sejenisnya.

Urgensi terkikisnya nilai-nilai dasar anak bangsa imfact dari arus informasi teknologi yang tidakdapat dihindari, semula teknologi hanya sebagai alat bantu memudahkan aktivitas sehari-hari tetapi sudah berubah fungsi menjadi alat bantu kemampuan diri manusia. Tidak berlebihan jika saya simpulkan teknologi menjadi sebuah kekuatan otonom dan mampu mempengaruhi gaya hidup manusia.

Ketergantungan manusia terhadap mobile phone, internet dan media sosial sangat tinggi tanpa disadari berimfact pada kekacauan yang bersifat normatif. Fenomena ini dapat kita cermati di tengah masyarakat norma-norma yang ada menjadi simpang siur (anomie). Ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat mengalami kebingungan dalam menggunakan norma karena banyaknya norma yang ada (heteronomi). Imfact teknologi menjadi pengarah hidup manusia, yang dikhawatirkan oleh Nuh Muhammad (2016) semakin terlihat jelas bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih sadar global daripada sadar nasional.

Terkait kondisi saat ini, penulis mencoba mengangkat masalah yang terjadi di tengah masyarakat isu terkikisnya karakter generasi muda: Bagaimana Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa Berbasis Rahmatan lil alamin?

PEMBAHASAN

Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Selain itu, menurut Sutarjo (2021) bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Sedangkan hakikat pendidikan menurut Syafaruddin (2016: 49) bahwa pendidikan merupakan fenomena kebudayaan manusia dalam proses membina pribadi anak agar mencapai kedewasaan hidup.

Diperkuat oleh Anwar Syaiful (2016: 3) bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk manusia memahami, peduli, dan melaksanakan nilai-nilai akhlak. Dengan kata lain pendidikan karakter harus dimaknai sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai akhlak (moral, etik). Pendidikan karakter sebuah transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu perilaku kehidupan orang tersebut (Anwar Syaiful, 2018: 235).

Selain itu, pendidikan Islam diharapkan dapat melahirkan insan yang memiliki keimanan dan akhlah mulia. Jika melihat masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam sudah menjadi satu kewajiban dan tanggungjawab dari Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan dan merawat karakter yang Islami berbasis Rahmatan Lil Alamin sebagai jawaban dari permasalahan bangsa.

Menurut Anwar Syaiful (2018: 235) bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan di Indonesia, yakni bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional, yakni: 1) Religius; 2) Jujur; 3) Toleransi; 4) Disiplin; 5) Kerja keras; 6) Kreatif; 7) Mandiri; 8) Demokratis; 9) Rasa ingin mengetahui; 10) Semangat kebangsaan; 11) Cinta tanah air; 12) Menghargai prestasi; 13) Bersahabat atau komunikatif; 14) Cinta damai; 15) Gemar membaca; 16) Peduli lingkungan; 17) Peduli sosial, dan; 18) Tanggungjawab. Diperjelas tentang karakter bangsa menjadi salah satu sembilan unsur kekuatan nasional dalam rangka mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pembangunan karakter menempatkan pendidikan sebagai strategi dasar dari pembangunan peradaban bangsa dimata Internasional. Jika kita telaah kembali sudah ada di jaman Rasulullah SAW dalam tugas utamanya sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Karakter sebagai pendidikan dasar dalam Islam dengan konsepnya bahwa manusia dilahirkan dengan potensi berbuat baik terhadap alam dan sesama manusia. Penulis simpulkan bahwa pendidikan pendidikan agama memiliki landasan dasar dalam membangun karakter peradaban bangsa. Terkait peran merujuk pendapat Soekanto Soerjono (1990: 268) bahwa peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran.

Peran pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter Bangsa berbasis Rahmatan Lil Alamin mengembangkan pola hubungan antar manusia pluralis, humanis, dialogis, dan toleran serta tidak kalah pentingnya mengembangkan pemanfaatan dalam pengelolaan alam semesta dengan bingkai kasih sayang. Peran guru Pendidikan Agama Islam menjadi penting di dalam menjelaskan dan mencontohkan bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dalam mencetak generasi berkarakter dalam bingkai Islam rahmatan lil alamin.

Akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama (Fauzi Imron, 2018: 25). Islam menjunjung tinggi akhlak mulia sebagaimana Allah mengutus RasulNya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Sifat dan sikap Rasulullah adalah bentuk dari implementasi tujuan disyariatkannya pendidikan agama Islam.

Peran dan tugas pendidikan agama Islam adalah meneruskan perjuangan Rasulullah diharapkan dapat menciptakan keharmonisan di tengah masyarakat dan Negara. Penulis merekomendasikan bahwa pendidikan agama Islam sebagai solusi meningkatkan karakter generasi bangsa, yakni: mengevaluasi kurikulum pendidikan agama Islam dengan merujuk pada AL-Quran dan Hadits.

Selain itu, relevansi dengan perkembangan jaman menurut Nasutin (1987) dalam Masykur (2019: 31-32) bahwa pemilihan bahan kurikulum, yakni: 1) Berdasarkan kronologis; 2) Bersifat logis; 3) Berangkat dari materi yang mudah sampai materi yang lebih kompleks; 4) Dari mulai yang lebih spesifik menuju yang lebih umum; 5) Digunakan pendekatan spikologi Gestalt; dari hal-hal yang komperensif menuju bagian-bagian. 

KESIMPULAN

Peran dan tugas Pendidikan Agama Islam meneruskan perjuangan Rasulullah dalam membentuk karakter Bangsa berbasis Rahmatan Lil Alamin. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firmannya: “dan  tiadalah kami mengutus kamu, melainkan unttuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-anbiya: 107). Pendidikan Islam dalam  mengikuti tuntutan perkembangan jaman dengan mencermati kedalaman dan keluasan materi kurikulum. Selain itu, pemilahan materi disesuaikan dengan ruang lingkup yang meliputi banyak hal yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap.

DAFTAR PUSTAKA 

Anwar Syaiful, 2018. Pendidikan Islam dalam Membangun Karakter Bangsa di Era Milenial. Jurnal: Pendidikan Islam, Vol.9 No.2 tahun 2018. Hal.233-247

Anwar Syaiful, 2016. Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa. Jurnal: Pendidikan Islam, Vol.7 November 2016. Hal.1-13.

Masykur, 2019. Teori dan Telaah Pengembangan Kurikulum. Bandar Lampung: Aura

Fauzi Imron, 2018. Profesi Keguruan. Jember: IAIN Jember Press.

Rose Colin & Nicholl J Malcolm, 2020. Revolusi Belajar Accelerated Learning For the 21stCentury. Bandung: Nuansa Cendekia.

Sugiarto Eko, 2017. Kitab PUEBI Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi

Sutarjo, 2021. Pendidikan Berkarakter dalam Bingkai Islam Rahmatan Lil Alamin. Disampaikan pada PKKMB Fakultas Agama Islam UNSIKA, Pada tanggal: 8 September 2021.

Soekanto Soerjono, 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Syafaruddin, 2016. Manajemen Organisasi Pendidikan Perspektif Sains dan Islam. Medan: Perdana Publishing.



Noted: Ini hasil karya tulisan Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja_2110631110067_UNSIKA_PAI. Perbuatan plagiat dalam penulisan karya ilmiah merupakan suatu tindak pidana. Orang yang terbukti melakukan plagiat dalam penulisan karya ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terancam sanksi pencabutan gelar, pembatalan ijazah, bahkan hingga ancaman pidana penjara. Silahkan kutip cantumkan jangan lupa cantumkan nama saya dalam sumber referensi kalian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar