PENDIDIKAN BERKARAKTER DALAM BINGKAI ISLAM
RAHMATAN LIL ALAMIN
Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja1 UNSIKA FAI Prodi Pendidikan Agama Islam2
achmadmauldfi@gmail.com
Abstrak:
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.Tujuan pendidikan tidak sekedar menstransfer knowledge
atau to change mental attitude saja, sebaiknya orientasi pendidikan
lebih ditekankan pada pembentukan karakter peserta didik. Ketergantungan manusia terhadap mobile phone,
internet dan media sosial sangat tinggi tanpa disadari berimfact pada kekacauan
yang bersifat normatif.
Kata kunci: Pendidikan, Karakter, Rahmatan Lil
Alamin.
PENDAHULUAN
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Upaya
mewujudkan tujuan pendidikan tidak sekedar menstransfer knowledge atau to
change mental attitude saja, sebaiknya orientasi pendidikan lebih
ditekankan pada pembentukan karakter peserta didik. Ide krusialnya pendidikan
karakter untuk membangun peradaban Bangsa diinisiasi oleh Nuh Muhammad (2016)
dalam Anwar Syaiful (2016: 2) dengan harapan dapat mengembalikan citra bangsa
pada tempo dulu, yakni bangsa yang beradab, santun, toleran, sopan
(berakhlak/berbudi pekerti) dan sejenisnya.
Urgensi terkikisnya nilai-nilai dasar anak bangsa
imfact dari arus informasi teknologi yang tidakdapat dihindari, semula
teknologi hanya sebagai alat bantu memudahkan aktivitas sehari-hari tetapi
sudah berubah fungsi menjadi alat bantu kemampuan diri manusia. Tidak
berlebihan jika saya simpulkan teknologi menjadi sebuah kekuatan otonom dan
mampu mempengaruhi gaya hidup manusia.
Ketergantungan manusia terhadap mobile phone,
internet dan media sosial sangat tinggi tanpa disadari berimfact pada kekacauan
yang bersifat normatif. Fenomena ini dapat kita cermati di tengah masyarakat
norma-norma yang ada menjadi simpang siur (anomie). Ini dapat
disimpulkan bahwa masyarakat mengalami kebingungan dalam menggunakan norma
karena banyaknya norma yang ada (heteronomi). Imfact teknologi menjadi
pengarah hidup manusia, yang dikhawatirkan oleh Nuh Muhammad (2016) semakin
terlihat jelas bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih sadar global
daripada sadar nasional.
Terkait kondisi saat ini, penulis mencoba
mengangkat masalah yang terjadi di tengah masyarakat isu terkikisnya karakter
generasi muda: Bagaimana Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa
Berbasis Rahmatan lil alamin?
PEMBAHASAN
Pendidikan karakter merupakan
bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik
diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Selain itu, menurut Sutarjo (2021)
bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri
individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah
hidup yang lebih baik. Sedangkan hakikat pendidikan menurut Syafaruddin
(2016: 49) bahwa pendidikan merupakan fenomena kebudayaan manusia dalam proses
membina pribadi anak agar mencapai kedewasaan hidup.
Diperkuat oleh Anwar Syaiful
(2016: 3) bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk manusia
memahami, peduli, dan melaksanakan nilai-nilai akhlak. Dengan kata lain
pendidikan karakter harus dimaknai sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk
memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai akhlak (moral, etik). Pendidikan
karakter sebuah transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan
dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu perilaku kehidupan orang tersebut
(Anwar Syaiful, 2018: 235).
Selain itu, pendidikan Islam
diharapkan dapat melahirkan insan yang memiliki keimanan dan akhlah mulia. Jika
melihat masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam sudah menjadi satu
kewajiban dan tanggungjawab dari Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan dan
merawat karakter yang Islami berbasis Rahmatan Lil Alamin sebagai jawaban dari
permasalahan bangsa.
Menurut Anwar Syaiful (2018:
235) bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan di Indonesia,
yakni bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional,
yakni: 1) Religius; 2) Jujur; 3) Toleransi; 4) Disiplin; 5) Kerja keras; 6)
Kreatif; 7) Mandiri; 8) Demokratis; 9) Rasa ingin mengetahui; 10) Semangat
kebangsaan; 11) Cinta tanah air; 12) Menghargai prestasi; 13) Bersahabat atau
komunikatif; 14) Cinta damai; 15) Gemar membaca; 16) Peduli lingkungan; 17)
Peduli sosial, dan; 18) Tanggungjawab. Diperjelas tentang karakter bangsa
menjadi salah satu sembilan unsur kekuatan nasional dalam rangka mempertahankan
persatuan dan kesatuan bangsa.
Pembangunan karakter
menempatkan pendidikan sebagai strategi dasar dari pembangunan peradaban bangsa
dimata Internasional. Jika kita telaah kembali sudah ada di jaman Rasulullah
SAW dalam tugas utamanya sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Karakter
sebagai pendidikan dasar dalam Islam dengan konsepnya bahwa manusia dilahirkan
dengan potensi berbuat baik terhadap alam dan sesama manusia. Penulis simpulkan
bahwa pendidikan pendidikan agama memiliki landasan dasar dalam membangun
karakter peradaban bangsa. Terkait peran merujuk pendapat Soekanto Soerjono
(1990: 268) bahwa peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila
seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia
menjalankan suatu peran.
Peran pendidikan agama Islam
dalam membentuk karakter Bangsa berbasis Rahmatan Lil Alamin mengembangkan pola
hubungan antar manusia pluralis, humanis, dialogis, dan toleran serta tidak
kalah pentingnya mengembangkan pemanfaatan dalam pengelolaan alam semesta
dengan bingkai kasih sayang. Peran guru Pendidikan Agama Islam menjadi penting
di dalam menjelaskan dan mencontohkan bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh
alam semesta dalam mencetak generasi berkarakter dalam bingkai Islam rahmatan
lil alamin.
Akhlak adalah segala sesuatu
yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama (Fauzi Imron, 2018: 25).
Islam menjunjung tinggi akhlak mulia sebagaimana Allah mengutus RasulNya untuk
menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Sifat dan sikap Rasulullah adalah bentuk dari
implementasi tujuan disyariatkannya pendidikan agama Islam.
Peran dan tugas pendidikan
agama Islam adalah meneruskan perjuangan Rasulullah diharapkan dapat
menciptakan keharmonisan di tengah masyarakat dan Negara. Penulis
merekomendasikan bahwa pendidikan agama Islam sebagai solusi meningkatkan
karakter generasi bangsa, yakni: mengevaluasi kurikulum pendidikan agama Islam
dengan merujuk pada AL-Quran dan Hadits.
Selain itu, relevansi dengan perkembangan jaman menurut Nasutin (1987) dalam Masykur (2019: 31-32) bahwa pemilihan bahan kurikulum, yakni: 1) Berdasarkan kronologis; 2) Bersifat logis; 3) Berangkat dari materi yang mudah sampai materi yang lebih kompleks; 4) Dari mulai yang lebih spesifik menuju yang lebih umum; 5) Digunakan pendekatan spikologi Gestalt; dari hal-hal yang komperensif menuju bagian-bagian.
KESIMPULAN
Peran dan tugas Pendidikan
Agama Islam meneruskan perjuangan Rasulullah dalam membentuk karakter Bangsa
berbasis Rahmatan Lil Alamin. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firmannya:
“dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan unttuk menjadi rahmat bagi seluruh
alam” (QS. Al-anbiya: 107). Pendidikan Islam dalam mengikuti tuntutan perkembangan jaman dengan
mencermati kedalaman dan keluasan materi kurikulum. Selain itu, pemilahan
materi disesuaikan dengan ruang lingkup yang meliputi banyak hal yang berkaitan
dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar Syaiful, 2018. Pendidikan Islam dalam Membangun Karakter
Bangsa di Era Milenial. Jurnal: Pendidikan Islam, Vol.9 No.2 tahun 2018.
Hal.233-247
Anwar Syaiful, 2016. Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk
Karakter Bangsa. Jurnal: Pendidikan Islam, Vol.7 November 2016. Hal.1-13.
Masykur, 2019. Teori dan
Telaah Pengembangan Kurikulum. Bandar Lampung: Aura
Fauzi Imron, 2018. Profesi Keguruan. Jember: IAIN Jember Press.
Rose Colin & Nicholl J
Malcolm, 2020. Revolusi Belajar Accelerated Learning For the 21stCentury.
Bandung: Nuansa Cendekia.
Sugiarto Eko, 2017. Kitab
PUEBI Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi
Sutarjo, 2021. Pendidikan
Berkarakter dalam Bingkai Islam Rahmatan Lil Alamin. Disampaikan pada PKKMB
Fakultas Agama Islam UNSIKA, Pada tanggal: 8 September 2021.
Soekanto Soerjono, 1990. Sosiologi
Suatu Pengantar.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Syafaruddin, 2016. Manajemen Organisasi Pendidikan Perspektif Sains dan Islam. Medan: Perdana Publishing.
Noted: Ini hasil karya tulisan Achmad Harristhana Mauldfi Sastraatmadja_2110631110067_UNSIKA_PAI. Perbuatan plagiat dalam penulisan karya ilmiah merupakan suatu tindak pidana. Orang yang terbukti melakukan plagiat dalam penulisan karya ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terancam sanksi pencabutan gelar, pembatalan ijazah, bahkan hingga ancaman pidana penjara. Silahkan kutip cantumkan jangan lupa cantumkan nama saya dalam sumber referensi kalian.